Kalau biasanya sebuah pulau terkenal karena pantai, resort, atau pemandangan sunset, Aoshima di Prefektur Ehime, Jepang, justru punya “penghuni” yang agak beda: kucing. Pulau kecil ini bahkan pernah dikenal punya lebih dari 100 kucing dengan jumlah manusia yang cuma segelintir. Jadi, jangan kaget kalau datang ke Aoshima malah lebih sering disambut meong daripada sapaan warga.
1. Awalnya kucing bukan buat wisata
Kucing-kucing di Aoshima awalnya dipelihara untuk membantu nelayan mengatasi tikus yang mengganggu kapal dan perlengkapan mereka. Jadi, keberadaan kucing di pulau ini sebenarnya punya alasan yang cukup masuk akal secara ekologis: mereka berperan sebagai predator alami bagi hewan pengerat. Penelitian genetik terhadap populasi kucing Aoshima juga menunjukkan bahwa populasinya berasal dari kelompok kecil kucing yang dibawa manusia, sehingga efek founder effect ikut memengaruhi karakter genetik kucing-kucing di sana.
2. Manusia pergi, kucing tetap tinggal
Aoshima dulunya bukan pulau sepi. Pada pertengahan abad ke-20, jumlah penduduknya pernah mencapai ratusan orang. Namun, ketika industri perikanan menurun dan lapangan pekerjaan semakin terbatas, banyak penduduk pindah ke wilayah perkotaan. Populasi manusia akhirnya terus menyusut, sementara kucing tetap bertahan di pulau tersebut.
3. Pulau kecil = lingkungan yang unik
Aoshima hanya memiliki luas sekitar 0,49 kilometer persegi. Lingkungannya relatif tenang, tidak memiliki lalu lintas kendaraan seperti kota besar, dan banyak bangunan lama yang kemudian menjadi tempat berlindung kucing. Kondisi seperti ini membuat kucing lebih mudah bergerak dan mencari tempat aman tanpa banyak gangguan manusia.
4. Makanan juga punya peran
Sebagai bekas komunitas nelayan, Aoshima memiliki sejarah dengan aktivitas perikanan. Sisa hasil tangkapan menjadi salah satu sumber makanan yang mendukung keberadaan kucing. Dalam beberapa laporan, kucing-kucing tersebut juga mendapat makanan dari warga dan orang yang datang ke pulau. Artinya, mereka tidak sekadar “tiba-tiba memenuhi pulau”, tetapi berkembang karena tersedia sumber makanan dan tempat berlindung.
5. Sekarang jumlah kucing justru mulai turun
Menariknya, cerita Aoshima sekarang sudah berubah. Pemerintah dan masyarakat setempat pernah menjalankan program sterilisasi untuk mengendalikan populasi kucing. Organisasi Kepulauan Terpencil Ehime mencatat bahwa setelah program tersebut, jumlah kucing terus menurun dari waktu ke waktu. Jadi, gambaran Aoshima sebagai pulau dengan “ratusan kucing” sebenarnya merupakan gambaran dari masa ketika populasinya sedang tinggi.
Fakta paling uniknya, fenomena Aoshima bukan sekadar cerita “pulau yang dipenuhi kucing”. Ini adalah contoh bagaimana perubahan aktivitas manusia bisa mengubah keseimbangan sebuah ekosistem kecil. Ketika industri perikanan berkembang, kucing dibutuhkan untuk mengendalikan tikus. Ketika manusia meninggalkan pulau, kucing tetap bertahan karena sudah menemukan sumber makanan dan tempat tinggal. Populasi mereka kemudian berkembang, sementara populasi manusia terus menyusut. Bahkan dari sisi genetika, populasi kucing Aoshima cukup menarik karena berasal dari kelompok awal yang relatif kecil.
Jadi, Aoshima bukan benar-benar “pulau yang memilih kucing daripada manusia”. Ceritanya lebih sederhana sekaligus unik: manusia membawa kucing untuk kebutuhan praktis, kehidupan manusia di pulau itu kemudian berubah drastis, sedangkan para kucing tetap bertahan. Dari masalah tikus, akhirnya Aoshima malah dikenal dunia sebagai salah satu Cat Island paling terkenal di Jepang.